FAKTA DARI BALIK SEMAKIN MENJAMURNYA JENIS USAHA RITEL MODERN MINIMARKET DI INDONESIA

Terdapat sebuah pertanyataan seperti: Mengapa Alfamart dan Indomaret hampir selalu berdiri dengan saling berdekatan? Namun untuk Indomaret sendiri jauh lebih unggul dalam hal jumlah dan pertumbuhan gerai sampai dengan laba. Kehadiran dari sebuah minimarket telah menjadi sebuah pro dan kontra di berbagai daerah. Sampai-sampai gerai dari minimarket yang terus bertumbuh, bahkan malah saling berdekatan.

Lain kepala daerah, lain juga kebijakannya. Seperti contoh: minimarket yang berada di Enrekang masih bisa mendapatkan izin untuk membuka gerai, untuk daerah seperti Sumatera Barat, termasuk juga Kota Padang, maka jangan harap Anda bisa menjumpai gerai-gerai yang berukuran maksimal 400 meter persegi ini dapat terbangun dengan megah alias (terlarang).

Selama hampir 30 tahun kehadiran dari minimarket sebenarnya tidak hanya menyuguhkan barang-barang kelontong dan bisa menjadi pesaing terkuat dari toko tradisional saja. Namun minimarket telah semakin bertransformasi untuk menjadi solusi konkret bagi masyarakat seperti layanan praktis dari urusan membeli pulsa, membeli voucher listrik, tiket kereta api sampai untuk urusan membeli tiket pesawat dan lain sebagainya.

Minimarket seolah telah hadir tanpa adanya pesaing. Warung-warung kecil, kelontong kelas menengah, semuanya dilibas habis. Musuh utama dari minimarket kini sebenarnya adalah toko-toko online. Banyak yang memprediksikan bahwa minimarket dalam rentan watku antara 10-15 tahun mendatang akan segera punah alias (hilang) karena sudah tergantikan perannya oleh semakin menjamurnya toko-toko online saat ini. Namun, bagi para pengusaha minimarket sudah mulai mampu untuk menyesuaikan diri untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Misalnya saja seperti: Alfaonline.com sebagai salah satu toko online yang berada dibawah manajemen Alfamart sejak tahun 2013 lalu. Mereka juga masih tetap berekspansi untuk melebarkan sayapnya pada beberapa tahun ke depan.

Dengan adanya ekspansi masif, gerai-gerai ritel minimarket yang tetap menjamur dengan berbagai merek Nasional sampai dengan bendera lokal. Namun dari sekian banyaknya minimarket, terdapat dua nama yang semakin terus menggurita, yaitu: Indomaret dan Alfamart. Dua minimarket ini seringkali saling berhadapan, bersebelahan seperti dua sejoli, sampai-sampai harus saling mengepung kota sampai mulai merambah ke desa-desa seperti para (serdadu) atau pasukan toko kelontong yang mengepung masyarakat.

Apabila pada suatu lokasi sudah berdiri terlebih dahulu minimarket seperti Indomaret maka bisa dipastikan bahwa di lokasi tersebut juga akan segera berdiri Alfamart dan ternyata rahasianya adalah pada lokasi tersebut memang memiliki titik-titik potensi pasar yang bagus dan juga sudah lolos uji kelayakan bisnis (feasibility study). Dan itu artinya adalah, jika minimarket lain ingin menambahkan toko mereka di lokasi tersebut, maka mereka sudah tidak perlu lagi untuk melakukan riset apapun yang serupa seperti feasibility studi dan studi-studi yang lainnya.

Indomaret sebagai yang lebih (senior) misalnya, pada tahun 2013 silam sudah mulai pertama kali menancapkan kukunya yang tajam dengan penyebaran 8.834 gerai, dalam dua tahun gerai bisnis ritel Grup Salim ini sudah bertumbuh semakin pesat hampir mencapai lebih dari 40% dengan 12.210 gerai di tahun 2015 lalu.

Lalu bagaimana dengan pemain (juniornya) seperti Alfamart? Terdapat 9.302 gerai yang berdiri kokoh hingga akhir 2013 lalu, dan saat itu jumlah gerai Alfamart, sangat jelas telah mengalahkan seniornya Indomaret. Namun, untuk hal pertumbuhan, gerai dengan kelir dominan warna merah kuning yang tumbuh tidak sampai lebih dari 20% selama dua tahun terakhir. Jadi, untuk jumlah gerai dan semakin masifnya ekspansi, maka Indomaret lah sang juara tunggalnya.

Dengan didukung gerai yang lebih luas, Indomaret terlihat jauh lebih moncer untuk urusan cuan (untung). Tahun lalu saja mereka mampu membukukan laba hingga mencapai Rp758 miliar atau tumbuh sekitar 23%. Dan  berkebalikan dengan Alfamart pada tahun yang sama hanya mencatatkan laba sebesar Rp464 miliar, turun menjadi 24% dari 2014 lalu.

Naik turunnya perputaran dalam dunia bisnis merupakan satu hal yang biasa, namun yang lebih tidak biasa lagi bagi para pengusaha ritel seperti Indomaret, Alfamart, dan lainnya adalah seringkali harus dihadapkan dengan permasalahan seperti kesulitan dalam hal perizinan pada setiap daerah yang tidak semuanya dapat berjalan dengan mudah. Ketentuan perizinan untuk jenis toko-toko modern oleh pemerintah daerah, permasalahan sonasi, sampai dengan memperhitungkan kondisi sosial dan ekonomi dari masyarakat, keberadaan pasar tradisional, usaha kecil di wilayah setempat yang terkait dengan pendirian toko modern telah diatur dengan jelas oleh Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Permalahan perizin inilah yang akhirnya harus berbuntut panjang dengan berbagai permasalahan di lapangan. Tidak jarang juga untuk beberapa daerah yang harus melakukan penertiban karena terjadinya pelanggaran perizinan. Masih ingatkah Anda dengan upaya penertiban minimarket di wilayah DKI Jakarta pada 2011 silam pada era Gubernur Foke?

Pada waktu itu Pemda DKI sempat juga merilis data-data yang sangat mencengangkan, dari verifikasi, terdapat totalnya adalah sekitar 2.162 minimarket di Jakarta, hanya sekitar 67 minimarket yang memiliki izin sah dan lengkap namun 2.095 minimarket telah jelas-jelas melanggar Perda No 2 tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta dan Ingub No 115 tahun 2006 tentang Penundaan Perizinan Usaha minimarket.

Rinciannya adalah sebanyak 1.383 minimarket yang tidak memenuhi persyaratan terhadap kelengkapan perizinan pendirian minimarket dan 712 minimarket yang sama sekali tidak mempunyai izin. Sebanyak 131 minimarket dari total 712 minimarket yang tidak berizin, lokasinyapun berjarak kurang dari 500 meter dari pasar tradisional, rangkap pelanggaran.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Kenyataannya adalah minimarket di Jakarta masih tetap ada. Dan hal ini adalah karena pada 2012 silam, lahir Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta No.7 tahun 2012 tentang Pencabutan Penundaan Perizinan Minimarket di Jakarta pada 12 Januari 2012. Salah satunya adalah mengatur agar memproses perizinan “pemutihan” bagi minimarket pada waktu itu yang sedang bermasalah pada izin. Meskipun sebagian dalam jumlah kecil ada yang diperintahkan harus ditutup karena lokasinya terlalu dekat dengan pasar-pasar tradisional.

DKI Jakarta hanyalah salah satu contoh terkecil dari berbagai permasalahan mengguritanya bisnis minimarket yang bermasalah, dan hal itu masih banyak terjadi di daerah-daerah lain hingga sekarang. Belum lama juga Pemerintah Kota Tomohon, Sulawesi Utara telah secara resmi menghentikan sementara mengeluarkan izin untuk pembangunan minimarket. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara juga telah melakukan hal yang serupa, dan banyak terjadi di daerah-daerah lainnya juga.

Ini baru dari sikap pemerintah daerah, belum lagi untuk respon negatif dari masyarakat sekitar yang juga menghendaki adanya pembatasan dari kemunculan minimarket. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, 7 Desember 2016 lalu, telah mengeluarkan fatwa bahwa pemerintah haram memberikan izin untuk jenis usaha ritel modern yang diduga kuat akan berdampak negatif terhadap perkembangan pedagang tradisional atau toko-toko kelontong tradisional.

Dari berbagai tantangan tersebut, maka pelaku usaha minimarket seolah tidak terlalu peduli, mereka tetap fokus untuk mengekspansi. Seperti Alfamart misalnya yang selain harus berfokus untuk ekspansi di dalam Negeri, mereka juga masih melanjutkan ekspansi di Negara-negara lain seperti: Filipina. Indomaret yang masih tetap optimistis dengan memasang target untuk pertumbuhan omzet hingga 20% untuk beberapa tahun mendatang. Mereka juga akan menambah jumlah outlet di daerah-daerah baru lain, seperti: Ambon, Kendari dan wilayah timur Indonesia di tahun 2018 untuk beberapa bulanmendatang. Ini membuktikan bahwa jenis usaha minimarket tetap mampu bertahan di tengah semakin kerasnya hadangan, karena mereka memang masih dibutuhkan.

Minimarket juga tetap mampu bertahan karena jurus “rahasia” dari bisnis ritel, yakni impulse buying, yaitu jika konsumen berbelanja, maka tak hanya berdasarkan kebutuhan, tetapi juga karena berdasarkan keinginan. Misalnya saat seseorang pergi dari rumah ke minimarket hanya berniat untuk membeli satu buah pasta gigi, namun saat sedang berada digerai minimarket, akhirnya mereka malah kepincut untuk membeli makanan ringan yang menggoda mata.

Hal inipun tak akan bisa terjadi apabila tidak ada jejeran rak-rak barang dagangan yang tersaji dengan rapi, lengkap, dan suasana yang nyaman. Ditambah lagi strategi mereka yang terus saling berjejer berdekatan di berbagai tepian jalan (Indomaret dan Alfamart). Dan hal ini sudah sangat lama dilakukan oleh duo rival abadi, yaitu: Indomaret dan Alfamart. Semoga bisa bermanfaat dalam menambah wawasan Anda sekalian, terimakasih dan salam sukses.

Apabila pembaca membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai artikel di atas atau membutuhkan pembimbingan star up ritel modern, mulai dari persiapan data base barang-barang yang dijual, software accounting +POS yang dipilih, SOP finance & accounting, SOP penjualan atau operasional, SOP Gudang dan Logistik, SOP Marketing dan Delivery service, rekrut karyawan sampai dengan perusahaan anda operasional,. Silahkan hubungi 081-252-982900, atau kontak ke 081-8521172. Kami siap membantu!



Tinggalkan Balasan

Selamat datang di Groedu klinik konsultasi
Send via WhatsApp